Harapan Senja..

Malam itu, Ibu kembali menghabiskan malam dengan mesin jahitnya. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk tuk membantu, walau hanya dengan menemaninya dengan celotehanku. Sehabis membuatkan teh hangat buat Ibu, aku terkulai lemas diterjang kantuk di sofa tengah yang berumur lebih tua dariku. Yang aku masih ingat, aku melihat Ibu dengan bersemangat menyelesaikan jahitannya. Masih terngiang di kepalaku kata-kata Ibu “Jangan khawatir, Ibu pasti bisa mendapatkan uang SPPmu. Ada tiga jahitan yang akan Ibu selesaikan nanti malam. Ini, punyanya Bu Sastro, Bu Endang dan Bu Indah. Besok pagi, kamu antarkan ya.. Nanti, uangnya buat membayar SPPmu..”

Ingatan itu tiba-tiba melayang di otakku. Ingatan tiga tahun lalu sewaktu aku kelas tiga SMP dan akan mengikuti ujian kelulusan. Pasti bisa ditebak, bahwa aku diwajibkan terlebih dahulu menyelesaikan administrasinya. Dan hari itu, adalah hari terakhir pelunasan pembayaran. Sebenarnya Ibu sudah jauh-jauh hari berusaha mengumpulkan selembar demi selembar uang untuk SPPku. Namun, adik kecilku, Zahra, yang masih SD, terserang demam berdarah dan harus diopname di Puskesmas di daerahku. Mau tidak mau, uang SPPku melayang buat biaya inap.

Semenjak kepergian Ayah, Ibu membanting tulang demi aku dan adikku. Ibu bekerja di toko kain Haji Sholeh di pasar, melayani pembeli. Selain itu, Ibu juga menerima jahitan untuk menambah penghasilan. Namun, order jahitan ini tidak tentu datangnya. Maklumlah, Ibu hanyalah penjahit kecil, dan pelanggan Ibu hanya berasal dari tetangga-tetangga.. Biasanya Ibu akan banjir orderan hanya pada saat musim awal masuk sekolah atau pada saat puasa, untuk menyambut lebaran. Jika banjir orderan begitu, maka Ibu akan meminta ijin pada Haji Sholeh untuk tidak masuk kerja. Untungnya, Haji Sholeh paham akan keadaan Ibu.

Ayah. Kata yang sudah lama sekali tidak terucap dari mulutku. Ayahku, pergi entah kemana tidak ada kabarnya. Yah…pergi begitu saja meninggalkan kami bertiga tanpa secuil pemberitahuan pun. Yang aku ingat, hanyalah pertengkaran-pertengkaran antara Ibu dan Ayah yang selalu berakhir dengan Ibu yang menumpahkan seluruh tangisnya di dalam kamar. Sementara Ayah memilih untuk melampiaskan dengan pergi bersama teman-temannya. Ketika pulang, Ayah mesti bicara sendiri dan tidak jelas apa yang dibicarakan, sambil jalan sempoyongan. Itulah kenangan masa kecilku tentang sosok Ayahku. Kemudian, beberapa hari aku tidak pernah melihat Ayahku, dan ketika ku bertanya pada Ibu, Ibu hanya menjawab bahwa Ayah pergi mencari uang. Dan aku menelan mentah kata-kata Ibu.

Dan kejadian tersebut terulang kembali saat ini, disaat ku menerima pemberitahuan bahwa aku harus segera melunasi SPP, jika tidak maka aku tidak diijinkan ikut ujian. Seketika, kepalaku terasa penuh, penuh dengan angka nol yang berjajar rapi. Ada enam nol yang tertera disana. Darimana aku bisa memperolehnya? Jika tidak, musnah sudah harapanku untuk segera lulus dari SMA ini dan segera mencari kerja. Bakalan sia-sia aku belajar mati-matian selama tiga tahun ini.

Surat itu, ku simpan rapi dibalik buku tulis matematikaku. Aku pulang dengan langkah gontai, dan berusaha tetap tersenyum untuk beberapa kawan yang memberikan sapa buatku. Haruskah surat ini kuserahkan kepada Ibu? Atau kusimpan sendiri, dan memupus ujian beserta harapanku..

Ibu, seharian bekerja. Pagi hingga siang di toko kain Haji Sholeh, setelah itu, membantu di toko Bu Saripah. Dan malam harinya, Ibu mengerjakan jahitannya. Ada gurat-gurat kelelahan di wajah Ibu. Namun, Ibu tidak mempedulikannya demi kami berdua. Aku hanya bisa membantu dengan berjualan pisang goreng buatan Mbak Rina tetangga depan rumah. Jika pagi, aku titipkan ke kantin sekolah. Jika masih ada sisanya, aku jajakan keliling kampung. Lumayan, buat uang jajanku dan adikku.

Besok tryout terakhir, dan minggu depan sudah UNAS. Aku mencoba mengerjakan soal-soal latihan. Namun, pikiranku melayang-layang. Ku kehilangan konsentrasiku.

Terdengar suara pintu pagar berderit, pasti itu Ibu yang pulang. Aku semakin bingung, entah apa kata-kata yang kan keluar dari mulutku nanti. Keringat dingin bercucuran di dahiku.

Seolah membaca pikiranku, seusai mengucap salam, Ibu langsung memberikan senyum terhangat di antara gurat keletihannya dan menyerahkan amplop putih tertutup padaku. “Buat membayar uang SPPmu. Sisanya besok pagi, setelah jahitan ini selesei.”

Ibu kembali mengayuh pedal mesin jahitnya dan menggabungkan potongan-potongan kain membentuk sebuah baju. Tak terasa, air mataku mengalir tanpa kusadari. Ibuku, telah berjuang keras demi diriku ini, tapi apa yang bisa ku perbuat untuknya? Dan, harapan untuk kuliah pun aku pupus dari impianku. Aku lebih baik bekerja, mendapatkan selembar demi lembar uang, meringankan beban hidup Ibuku. Sebab, tidak mungkin, jika aku kuliah mengandalkan jerih payah Ibu, untuk tingkat SMA saja, Ibu sudah keteteran seperti ini, apalagi untuk membiayai kuliahku yang biayanya selangit itu. Biarkan saja, nanti adikku yang bisa duduk di bangku kuliah, merasakan bagaimana menjadi mahasiswa. Aku, ya aku akan bekerja saja. Titik.

Seminggu sudah aku lulus SMA. Semua teman-temanku sibuk belajar untuk persiapan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Sedangkan aku, aku sibuk mencari pekerjaan. Aku bisa melihat ada sinar kesedihan di mata Ibu karena aku tidak bisa kuliah, namun inilah jalan hidup yang harus kulalui.

Hari ini, kepalaku terasa penuh sekali, seperti ada beban berat yang mengisi kepalu. Ingin ku keluarkan, tapi tak tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Ku duduk di teras rumah untuk sambil melihat orang berlalu lalang, ada yang mau pulang ke rumahnya, ada yang mau pergi kemana. Entahlah, pikiranku terasa sedikit lebih nyaman melihat keramaian itu. Meskipun hanya sebagai pengalh perhatian karena aku belum dapat panggilan untuk tes kerja sekalipun, padahal, sudah berpuluh-puluh surat lamaran yang kukirim.

Mentari sudah mulai meredup, pertanda bahwa pergantian siang malam akan dimulai. Warna merah senja di ufuk barat menarik perhatianku. Gurat-gurat merahnya sungguh indah dan membuat damai di hati. Aku tersentak, ada yang memanggil namaku. Ternyata, tetanga sebelah, Bu Yati. “Ini ada surat buatmu, Pak tukang posnya salah mengirmnya ke rumahku tadi siang.”, begitu kata Bu Yati. Seusai ku menerima amplop itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih, ku langsung saja membukanya, pasti panggilan untuk tes kerja. Begitu aku buka, ternyata bukan. Aku kecewa. Surat ini dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya. Lalu aku baca pelan-pelan, dan tak kuasa air mataku mengalir begitu saja. Surat ini menyatakan bahwa aku tlah diterima di Universitas Negeri di Surabaya, melalui jalur PMDK Beasiswa. Dijelaskan juga, bahwa aku tidak perlu membayar semua biaya kuliah dan bahkan mendapatkan biaya hidup.

Guru BKku yang ada di balik semua anugrah ini. Aku sempat mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar. Tapi, begitu aku mendapat surat tagihan pembayaran SPP, aku membatalkan untuk mendaftar. Tapi, Ibu Guru BK, tetap mengirim berkas pendafataranku, dan ternyata aku memang diterima. Hanya rasa syukur tak henti-hentinya yang bisa kupanjatkan kepada Allah SWT atas besarnya karunia yang tlah kuterima. Ibu juga langsung sujud syukur begitu mendengar berita ini.

Sinar mentari begitu menyengat hari ini. Memang Surabaya panas dari dulu. Dari pagi hingga siang ini, aku masih melakukan pendaftaran ulang. Banyak sekali yang diurus. Rasanya lelah sudah menggelayuti tubuhku, namun keinginan untuk duduk di bangku kuliah mengalahkan segala kepenatan itu.

Akhirnya, selesai sudah. Jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk di angkat empat. Di tanganku sudah ada Kartu Tanda Mahasiswa Sementara. Entah apa yang kurasakan saat ini, haru, bahagia, bangga bercampur jadi satu. Harapanku, ya selangkah harapanku telah kembali membumbung tinggi. Tinggal berjuang yang perlu kulakukan. Perjuangan tanpa kenal lelah dan pantang menyerah, sebab rintangan kan selalu menghadang. Dan senja, gurat warna merahnya tetap mengiringi setiap langkah dan harapanku tuk selalu maju.

~ oleh r4tn4nop pada 2 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: