Semarang, 3 Juni 2010

Pagi hari ini, aku menangis Ibu.. Aku bener-bener tak kuasa menahan tangis ini. Air mata ini mengalir begitu saja, tanpa kusadari. Bahkan ketika menulis ini, air mataku semakin deras saja, tanpa bisa kukendalikan.

Aku pengen banget ketemu Ibu. Dengan mendengar suaramu saja, itu sudah cukup. Pasti hatiku langsung tenang. Dan Allah rupanya belum mengabulkan keinginanku untuk berbincang dengan Ibu, meski hanya sebatas mimpi. Mungkin karena aku, kurang baik di mata Allah ya, jadinya Allah belum mengabulkan permohonanku..

Minggu kemarin, aku ke surabaya, Ibu.. Pada hari minggunya, aku ikut mbak Win periksa. Ternyata, hasilnya seperti yang kukhawatirkan. Iya, sakit yang sama seperti Ibu, cuman beda tempat saja. Kata orangnya, memang karena faktor hormonal memang.

Aku masih takut berobat secara medis Ibu.. Aku takut periksa ke dokter. Entahlah, apa yang kutakutkan.. Apakah aku takut akan serangkaian pemeriksaan yang harus kujalani nantinya.. Apakah ku takut dengan kemungkinan tubuhku akan dibelah-belah oleh pisau operasi.. Mungkn saja.. Atau aku takut akan rasa sakitnya.. Atau aku takut akan kebenaran penyakitku ini.. Takut mengetahui parah tidaknya tumor ini menggerogoti tubuhku.. Entahlah.. Yang kurasakan hanyalah ketakutan untuk mengetahui lebih dalam..

Aku masih ingat, ketika menjaga Ibu di rumah sakit dulu.. Aku meninggalkan pekerjaanku, kuliahku, semuanya yang ada di surabaya. Yang ada di otakku saat itu adalah bagaimana membujuk supaya Ibu mau dirawat di rumah sakit. Dan Ibu memang mau, setelah kedatanganku, langsung kita berangkat ke rumah sakit. Aku bisa merasakan sakit yang ibu terima untuk setiap pemeriksaan, jarum suntik, obat, CT scan, papsmir dan sebagainya. Namun, Ibu tak pernah mengeluh sedikitpun.. Ibu tetap saja memikirkanku, mas Aguk, mbak Nana. Bahkan di saat Ibu sakit pun, Ibu tidak memikirkan diri sendiri, tapi Ibu malah memikirkan orang lain yang lebih sehat dari Ibu.

Ibu, haruskah aku menjalani semuanya itu? Ataukah aku hanya diam, biar semua orang tak ada yang mengetahuinya, dan aku hanya akan menunggu waktu.. Ya, hanya mbak Win yang tau tentang masalah ini. Aku belum cerita siapa-siapa. Namun, sekarang Ibu juga tahu. Ibu, aku harus bagaimana? Bantu aku.. Aku membutuhkanmu..

Sebenarnya, terfikir di otakku, seperti halnya di film-film zombie, action atau drama-drama yang sad ending. Kalau di film-film zombie, atau makhluk-makhluk aneh lainnya, sepanai-pandainya sang pemeran untuk lari, loncat kesana kemari, menghindar, melawan dengan senjata dan lainnya, namun di akhir film, dia akan mati juga. Jika di film-film action, sang pemeran, meskipun jago kungfu, bela diri, ahli senjata, bisa selamat dalam berbagai pertempuran, namun, di akhir film, dia juga pasti mati. Begitu juga dalam film-film drama, apalagi korea, sang peran utama, terkena sakit parah, sudah berobat kesana kemari, dan akhirnya tetep mati juga. Apa aku akan seperti itu? Berobat kesana kemari dan akhirnya akan mati juga? Atau aku berdiam diri aja, hingga ajal menjemput?

Ibu, padahal, kemarin, ya Rabu kemarin, aku baru menerika SK yang tlah sekian lama, akhirnya turun juga. Namun, hari itu aku menangis, aku tak bahagia sedikitpun.. Lega juga sih, namun sedikit. Dan hari ini, aku harus mengurus administrasinya, mengisi blanko KP4 dan sebagainya.. Semoga semua lancar..

Ibu, aku tau bahwa Ibu slalu menjagaku, slalu mengawasiku dan memperhatikanku. Aku sayang Ibu slalu..

~ oleh r4tn4nop pada 3 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: